Hari Kunjung Perpustakaan diperingati setiap tanggal 14 September di Indonesia sebagai momentum nasional untuk menumbuhkan kebiasaan berkunjung ke perpustakaan dan meningkatkan minat baca masyarakat. Peringatan ini pertama kali ditetapkan pada 14 September 1995 oleh Presiden Soeharto berdasarkan usulan Kepala Perpustakaan Nasional RI pertama, Mastini Hardjoprakoso, melalui Surat Nomor 020/A1/VIII/1995 tanggal 11 Agustus 1995. Tujuannya jelas: mengajak masyarakat memanfaatkan perpustakaan secara optimal sebagai sumber belajar, menumbuhkan minat baca, membangun budaya literasi, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
Bagi calon mahasiswa SMA, SMK, MA, orang tua, karyawan yang kuliah sambil bekerja, alumni, dan masyarakat umum, Hari Kunjung Perpustakaan bukan sekadar seremoni tahunan. Momen ini mengingatkan bahwa literasi yang kuat menjadi fondasi keberhasilan pendidikan tinggi dan kehidupan profesional. Di tengah banjir informasi digital, kemampuan memilih, mengevaluasi, dan memanfaatkan sumber pengetahuan yang kredibel semakin penting. Universitas Islam As-Syafi’iyah memahami tantangan ini dan menempatkan budaya literasi serta pemanfaatan perpustakaan sebagai bagian integral dari proses pendidikan yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam.
Banyak calon mahasiswa dan orang tua menghadapi masalah yang sama: bagaimana mempersiapkan diri memasuki dunia perkuliahan yang menuntut kemandirian belajar, kemampuan riset, dan daya analisis yang baik. Data literasi membaca menunjukkan bahwa tantangan ini masih nyata di Indonesia. Meskipun hampir 97 persen penduduk usia 15 tahun ke atas sudah melek huruf, skor literasi membaca dalam asesmen internasional seperti PISA masih berada di bawah rata-rata. Banyak siswa baru mencapai level dasar pemahaman teks, belum sepenuhnya mampu mengevaluasi dan merefleksikan berbagai sumber informasi secara kritis. Akibatnya, saat memasuki perguruan tinggi, sebagian mahasiswa kesulitan membedakan sumber yang andal, menyusun argumen berbasis data, atau memanfaatkan koleksi perpustakaan secara efektif.
Bagi orang tua, kekhawatiran muncul ketika melihat anak lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial daripada membaca buku atau mengakses referensi ilmiah. Bagi karyawan yang ingin kuliah sambil bekerja, keterbatasan waktu membuat mereka membutuhkan sumber belajar yang efisien, mudah diakses, dan relevan. Bagi masyarakat umum, budaya membaca yang masih perlu diperkuat berdampak pada kualitas sumber daya manusia secara keseluruhan. Situasi ini menuntut solusi yang tidak hanya menyediakan akses informasi, tetapi juga membiasakan pola pikir literasi sejak dini di lingkungan pendidikan tinggi.
Universitas Islam As-Syafi’iyah hadir sebagai salah satu jawaban atas kebutuhan tersebut. Sebagai perguruan tinggi yang berakar pada kepedulian KH. Abdullah Syafi’ie terhadap pendidikan Islam dan pengembangan kualitas umat sejak era perintisan madrasah pada 1928, institusi ini berkembang dari Akademi Pendidikan Islam (AKPI) As-Syafi’iyah yang didirikan 14 November 1965 dan ditingkatkan menjadi universitas pada 12 Maret 1969. Komitmennya konsisten: mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia melalui integrasi ilmu dan agama. Dalam konteks Hari Kunjung Perpustakaan, semangat ini sejalan dengan upaya membangun budaya literasi yang berkelanjutan di kampus.
Perpustakaan perguruan tinggi berperan jauh lebih luas daripada sekadar tempat menyimpan buku. Ia menjadi pusat sumber belajar, ruang diskusi, tempat mengembangkan kemampuan penelusuran informasi, serta sarana membangun kebiasaan membaca yang terstruktur. Mahasiswa yang terbiasa memanfaatkan perpustakaan cenderung lebih mampu menyelesaikan tugas akademik, menyusun karya ilmiah, dan mengembangkan pemikiran kritis. Lingkungan perpustakaan yang tenang juga mendukung konsentrasi belajar, sementara akses terhadap koleksi cetak maupun digital membantu memperluas wawasan di luar materi kuliah.
Di lingkungan pendidikan tinggi yang mengedepankan nilai-nilai Islam, perpustakaan turut menjadi ruang penguatan karakter. Mahasiswa tidak hanya mencari informasi, tetapi belajar memilah pengetahuan yang bermanfaat, menumbuhkan rasa ingin tahu yang sehat, dan menerapkan etika dalam memanfaatkan sumber ilmu. Universitas Islam As-Syafi’iyah menekankan integrasi ilmu pengetahuan dan agama sebagai ciri khas. Proses pembelajaran diarahkan agar mahasiswa memahami bahwa menuntut ilmu merupakan bagian dari ibadah, sehingga kebiasaan berkunjung ke perpustakaan dan membaca secara teratur menjadi amalan yang bermakna.
Bagi calon mahasiswa dari berbagai latar belakang, termasuk mereka yang bekerja sambil kuliah, kemudahan akses terhadap sumber belajar menjadi sangat penting. Perpustakaan modern di perguruan tinggi umumnya menyediakan layanan sirkulasi, ruang baca, akses katalog daring, koleksi digital, serta bimbingan literasi informasi. Kemampuan memanfaatkan fasilitas ini membantu mahasiswa mengelola waktu belajar secara efektif. Universitas Islam As-Syafi’iyah, dengan berbagai fakultas yang mencakup Agama Islam, Hukum, Ekonomi dan Bisnis, Sains dan Teknologi, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, serta Ilmu Kesehatan, menyediakan ruang akademik yang mendukung pengembangan literasi lintas disiplin. Mahasiswa dapat menemukan referensi yang relevan dengan bidang studi masing-masing sambil memperkaya wawasan keislaman.
Orang tua yang ingin memastikan putra-putrinya mendapatkan pendidikan yang seimbang antara kompetensi profesional dan pembentukan karakter akan menemukan nilai penting dalam pilihan kampus yang menghargai budaya membaca. Alumni dan masyarakat umum juga dapat melihat bahwa perguruan tinggi yang aktif mendorong pemanfaatan perpustakaan berkontribusi pada penguatan ekosistem literasi nasional. Hari Kunjung Perpustakaan menjadi pengingat kolektif bahwa kemajuan bangsa dimulai dari kebiasaan sederhana: membuka buku, mengakses informasi yang benar, dan mengolahnya menjadi pengetahuan yang bermanfaat.
Membangun budaya literasi tidak cukup hanya dengan peringatan setahun sekali. Ia memerlukan lingkungan yang konsisten mendukung kebiasaan membaca, diskusi ilmiah, dan akses terhadap sumber terpercaya. Di sinilah peran perguruan tinggi menjadi strategis. Universitas Islam As-Syafi’iyah menempatkan pendidikan sebagai sarana membentuk generasi yang mandiri, profesional, dan berjiwa peduli terhadap sesama. Orientasi integrasi ilmu dan agama, pencetakan lulusan yang berdaya saing, serta perhatian terhadap akses pendidikan menjadi landasan yang relevan dengan semangat Hari Kunjung Perpustakaan.
Mahasiswa yang aktif memanfaatkan perpustakaan biasanya lebih siap menghadapi tuntutan dunia kerja. Mereka terbiasa mencari data, mengevaluasi sumber, menyusun argumentasi, dan menyampaikan gagasan secara sistematis. Keterampilan ini sangat dibutuhkan di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, hukum, ekonomi, kesehatan, hingga teknologi. Bagi mereka yang kuliah sambil bekerja, kemampuan mengakses sumber digital dan memanfaatkan layanan perpustakaan secara efisien membantu menyeimbangkan tuntutan akademik dan profesional.
Selain manfaat akademik, perpustakaan juga berfungsi sebagai ruang sosial yang positif. Mahasiswa dapat berdiskusi, berbagi referensi, dan membangun jaringan intelektual dalam suasana yang mendukung. Kegiatan literasi, bedah buku, atau pelatihan penelusuran informasi yang sering digelar di lingkungan kampus memperkaya pengalaman belajar. Semangat ini sejalan dengan tujuan awal pencanangan Hari Kunjung Perpustakaan: menanamkan kebiasaan berkunjung dan meningkatkan kegemaran membaca sebagai bagian dari gerakan intelektual bangsa.
Dalam memilih perguruan tinggi, calon mahasiswa dan orang tua sebaiknya mempertimbangkan bagaimana institusi tersebut mendukung pengembangan literasi. Apakah kampus menyediakan akses yang memadai terhadap sumber belajar? Apakah lingkungan akademik mendorong kebiasaan membaca dan berpikir kritis? Apakah nilai-nilai yang dijunjung sejalan dengan pembentukan karakter yang utuh? Universitas Islam As-Syafi’iyah menawarkan kerangka pendidikan yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui komitmen terhadap integrasi keilmuan dan keislaman, serta penekanan pada kemandirian dan profesionalisme lulusan.
Hari Kunjung Perpustakaan setiap 14 September menjadi kesempatan yang tepat untuk merefleksikan kembali peran perpustakaan dalam perjalanan pendidikan. Bagi generasi muda yang sedang mempersiapkan masa depan, momen ini mengajak untuk menjadikan membaca dan memanfaatkan perpustakaan sebagai kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar kewajiban tugas kuliah. Bagi orang tua, ini adalah pengingat untuk mendukung anak-anak memilih lingkungan belajar yang menghargai ilmu pengetahuan. Bagi masyarakat luas, ini adalah ajakan bersama membangun budaya literasi yang lebih kuat.
Universitas Islam As-Syafi’iyah mengundang calon mahasiswa, orang tua, dan masyarakat untuk mengenal lebih dekat komitmen institusi dalam menyediakan pendidikan tinggi yang berkualitas dan berkarakter. Melalui proses pembelajaran yang mendorong pemanfaatan sumber belajar secara optimal, mahasiswa diharapkan tumbuh menjadi insan yang tidak hanya kompeten di bidangnya, tetapi juga memiliki kemampuan literasi yang kuat dan akhlak yang mulia.
Jangan biarkan kesempatan membangun fondasi literasi yang kokoh terlewatkan. Segera daftarkan diri atau konsultasikan pilihan program studi yang sesuai dengan minat dan kebutuhan Anda. Informasi lengkap mengenai pendaftaran, beasiswa, dan program akademik dapat diakses melalui tautan resmi Universitas Islam As-Syafi’iyah di https://linktr.ee/uia.jkt. Mari manfaatkan momentum Hari Kunjung Perpustakaan untuk memulai langkah nyata menuju pendidikan tinggi yang bermakna dan berdaya saing.
Penulis: Suyaka Rendhy
Editor: Humas Universitas Islam As-Syafi’iyah
Leave a Comment