Memilih jalan ilmu yang bermanfaat adalah keputusan besar. Agus Idwar Jumhadi, mahasiswa Program Doktor Ilmu Dakwah, berhasil meraih predikat cum laude dalam Sidang Terbuka Disertasi yang digelar pada Selasa (11/8/2026). Dengan penuh keyakinan, ia mempertahankan disertasinya yang berjudul Paradigma Dakwah Trilogi Nasyid dalam Budaya Populer di Indonesia. Pencapaian ini bukan sekadar kebanggaan pribadi, melainkan juga bukti bahwa kampus ini terus melahirkan cendekia yang relevan dengan zamannya.
Suasana sidang terbuka hari itu terasa istimewa. Keluarga, sahabat, para dosen, dan tamu undangan hadir untuk menyaksikan langsung perjalanan panjang seorang pembelajar mencapai puncak gelar akademiknya. Predikat cum laude yang diraih Agus menjadi penutup manis dari kerja keras bertahun-tahun dalam meneliti, menulis, dan mempertahankan gagasan.
Bagi banyak orang, sidang terbuka disertasi adalah momen yang mengharukan. Di ruang itulah terlihat bahwa belajar adalah perjalanan seumur hidup, dan tidak ada usaha yang sia-sia. Setiap halaman yang dibaca dan setiap data yang dianalisis akhirnya menjadi kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu dakwah.
Sidang tersebut turut dihadiri sejumlah artis dan musisi, di antaranya Opick, pelantun Tombo Ati, musisi Dwiki Dharmawan, serta Neno Warisman. Hadir pula Ketua Yayasan Dompet Dhuafa Ahmad Juwaini, Deputy BAZNAS Arifin Purwakananta, dan Ustaz Nasir Tajang bersama sejumlah tamu undangan lainnya.
Kehadiran Presiden PKS Almuzzammil Yusuf serta Ketua DPRD DKI Jakarta Suhud Alynudin semakin melengkapi daftar tokoh yang menyaksikan momen bersejarah ini. Pertemuan para akademisi, seniman, tokoh sosial, dan pemimpin publik dalam satu ruangan menunjukkan satu hal: kajian dakwah dan budaya populer ternyata menjangkau banyak kalangan dan dirasakan manfaatnya.
Penelitian Agus mengkaji transformasi nasyid sebagai media dakwah di tengah perkembangan budaya populer di Indonesia. Dalam disertasinya, budaya populer dipahami sebagai budaya yang berkembang sebagai budaya massa, bersifat kekinian, serta memiliki kecenderungan berorientasi pada aspek ekonomi atau komersialitas.
Agus menempatkan kemasan, lirik, dan munsyid sebagai tiga pilar utama yang ia sebut sebagai Trilogi Nasyid. Ketiganya membangun kekuatan pesan dakwah sekaligus daya tarik nasyid bagi masyarakat. Kemasan membuat pesan enak didengar, lirik membuat pesan mudah dipahami, dan munsyid hadir sebagai wajah yang merepresentasikan keteladanan.
Pertemuan antara nasyid dan budaya populer kemudian melahirkan proses adaptasi dan negosiasi antara nilai-nilai dakwah dan tuntutan industri. Proses ini berlangsung khususnya dalam aspek estetika, produksi, distribusi, dan konsumsi. Menariknya, adaptasi tersebut tidak membuat nasyid kehilangan jati dirinya.
Penelitian ini menempatkan Sibghah dan Ikhtira’ sebagai strategi kreatif. Sibghah merupakan strategi memberi warna dan nuansa Islami terhadap bentuk-bentuk budaya populer yang telah dikenal masyarakat. Adapun Ikhtira’ merupakan strategi menciptakan bentuk dan ekspresi nasyid yang baru dan inovatif.
Kedua strategi itu bekerja melalui Trilogi Nasyid: kemasan yang adaptif, lirik yang kontekstual, dan munsyid sebagai komunikator sekaligus representasi nilai dakwah. Dengan cara ini, pesan kebaikan tidak terasa asing, melainkan hadir dekat dengan keseharian masyarakat.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa adaptasi terhadap budaya populer tidak serta-merta mengubah karakter dasar nasyid. Munsyid tidak hanya menempatkan nasyid sebagai produk hiburan, tetapi terutama sebagai media dakwah,” tutur Agus.
Menurut Agus, orientasi ekonomi budaya populer tidak secara otomatis menjadi orientasi utama nasyid. Bahkan dalam konteks tertentu, posisi tersebut menjadi antitesis: ketika budaya populer cenderung menempatkan karya sebagai komoditas yang berorientasi ekonomi, para munsyid justru mempertahankan nasyid sebagai sarana menyampaikan nilai, membangun kesadaran, dan melakukan pembinaan spiritual masyarakat.
“Paradigma ini menegaskan bahwa nasyid mampu mempertemukan estetika, etika, spiritualitas, dan kreativitas, sehingga tetap relevan sebagai media dakwah yang komunikatif dan membumi di tengah budaya populer Indonesia,” pungkas Agus.
Ada pelajaran indah yang bisa kita petik bersama dari riset ini. Ilmu yang hidup bukanlah ilmu yang bersembunyi di menara gading, melainkan ilmu yang berani berdialog dengan realitas masyarakat. Nasyid, budaya populer, dan dakwah ternyata dapat bertemu dalam satu panggung yang harmonis dan saling menguatkan.
Bagi Anda para pelajar SMA, SMK, dan MA, ini adalah pengingat yang menenangkan: bidang studi apa pun yang Anda pilih nanti, dakwah, komunikasi, seni, ekonomi, atau teknologi, semuanya dapat menjadi jalan manfaat. Bagi orang tua, riset ini menegaskan bahwa membekali anak dengan nilai dan kreativitas adalah bekal terbaik menghadapi zaman.
Dan bagi Anda yang kini kuliah sambil bekerja, kisah Agus adalah bukti bahwa kesibukan bukan alasan untuk berhenti belajar. Gelar doktor diraih melalui proses panjang yang menuntut kesabaran, manajemen waktu, dan niat yang lurus. Jika Anda sedang berada di tengah perjuangan itu, teruslah melangkah, karena setiap lelah Anda sedang menabung masa depan.
Mungkin sebagian dari Anda bertanya, sebenarnya apa yang dipelajari dalam Ilmu Dakwah? Secara sederhana, program studi ini mempelajari cara menyampaikan pesan kebaikan secara efektif, bijak, dan sesuai dengan perkembangan masyarakat. Mahasiswanya diajak memahami psikologi masyarakat, strategi komunikasi, hingga media dakwah kontemporer.
Lulusannya pun memiliki peluang karier yang luas: menjadi dai, pendidik, peneliti, penyuluh, praktisi komunikasi, hingga kreator konten dakwah di media digital. Riset Agus tentang nasyid menunjukkan bahwa dunia dakwah sangat terbuka bagi jiwa-jiwa kreatif yang ingin berkarya tanpa kehilangan nilai.
Jika Anda masih duduk di bangku sekolah dan tertarik dengan dunia komunikasi, pendidikan, atau kegiatan sosial, bidang ini bisa menjadi pilihan yang menarik. Memilih jurusan yang selaras dengan minat akan membuat proses belajar terasa lebih hidup, dan itulah salah satu kunci keberhasilan studi.
Memilih perguruan tinggi adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidup. Tapi Anda tidak perlu khawatir, kami di sini untuk membantu. Banyak lulusan SMA, SMK, dan MA merasa bimbang: jurusan apa yang tepat, kampus mana yang sesuai, dan bagaimana menyesuaikan dengan biaya serta minat.
Para orang tua pun kerap gelisah, dan itu wajar. Kita semua ingin anak-anak tumbuh pintar, namun juga khawatir pada lingkungan yang akan membentuk karakter mereka. Sementara itu, tidak sedikit karyawan yang ingin naik kelas lewat pendidikan, tetapi terhalang jam kerja yang padat dan tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan.
Semua kegelisahan itu justru menunjukkan bahwa Anda serius menata masa depan. Tidak ada yang salah dengan merasa ragu, karena dari keraguan yang dikelola dengan baik, lahir keputusan yang matang. Langkah berikutnya adalah mencari kampus yang memahami kebutuhan Anda: tempat yang tidak hanya mengasah akal, tetapi juga menumbuhkan akhlak, kreativitas, dan kepercayaan diri.
Di sinilah kabar baik itu menemukan rumahnya. Keberhasilan Agus Idwar Jumhadi meraih gelar doktor cum laude menunjukkan bahwa Universitas Islam As-Syafi’iyah serius membina mahasiswanya, dari jenjang sarjana hingga doktor. Kampus ini memberi ruang bagi ilmu untuk tumbuh berdampingan dengan nilai-nilai keislaman.
Seperti nasyid yang beradaptasi dengan budaya populer tanpa kehilangan ruh dakwahnya, kampus ini mendorong mahasiswanya untuk terbuka terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri. Anda akan belajar menjawab tantangan masa kini dengan cara yang membumi, kreatif, dan tetap beretika.
Bagi Anda yang kuliah sambil bekerja, lingkungan belajar yang suportif akan sangat menentukan. Kampus yang memahami perjuangan mahasiswa dewasa akan membantu Anda mengatur langkah, menjaga semangat, dan menyelesaikan studi dengan baik.
Sebelum memutuskan, tentu bijak bila Anda membandingkan beberapa pilihan dengan tenang. Berikut beberapa hal yang membuat kampus ini layak Anda pertimbangkan:
Tentu setiap keluarga memiliki pertimbangan masing-masing, dan itu kami hormati. Namun satu hal yang pasti: tempat yang tepat akan membuat proses belajar terasa menumbuhkan, bukan melelahkan.
Agar keputusan Anda semakin mantap, ada beberapa langkah sederhana yang bisa diikuti. Libatkan orang tua dan orang-orang yang Anda percaya dalam setiap pertimbangan, dan kenali minat serta rencana karier Anda sebelum memilih program studi. Berikut beberapa tips praktis yang dapat Anda jadikan pegangan:
Terakhir, luruskan niat. Kampus mana pun yang Anda pilih, jadikan ia ladang untuk menuntut ilmu, membangun adab, dan menyiapkan manfaat bagi sesama. Dengan niat yang lurus, jalan yang terjal pun akan terasa ringan.
Kisah Agus Idwar Jumhadi mengingatkan kita bahwa setiap pencapaian besar selalu dimulai dari satu langkah kecil yang berani. Jika selama ini Anda memendam keinginan untuk kuliah, melanjutkan studi, atau memberi pendidikan terbaik bagi putra-putri Anda, mungkin inilah saatnya bergerak.
Universitas Islam As-Syafi’iyah membuka pintu bagi Anda yang ingin bertumbuh dalam ilmu, iman, dan kreativitas. Anda dapat mendaftar sekarang juga atau memanfaatkan layanan konsultasi gratis untuk menemukan program yang paling sesuai dengan minat dan situasi Anda. Bagi orang tua, jangan ragu berdiskusi tentang masa depan putra-putri Anda. Bagi para karyawan, pastikan Anda menanyakan pilihan jadwal yang sesuai dengan jam kerja.
Kunjungi tautan https://linktr.ee/uia.jkt untuk informasi pendaftaran dan konsultasi. Mari melangkah bersama, karena masa depan yang baik tidak datang sendiri, ia dipersiapkan dengan doa dan ikhtiar.
Penulis: Suyaka Rendhy
Editor: Humas Universitas Islam As-Syafi’iyah
Leave a Comment