Jenderal (Purn) TNI Djoko Santoso Berikan Kuliah Perdana

 BERITA UTAMA, KEGIATAN UNIVERSITAS

Pelantikan MB-UIA 1Kampus 2 (UIA) ~ Kepemimpinan adalah amanah, titipan Allah SWT, bukan sesuatu yang diminta apalagi dikejar dan diperebutkan. Sebab kepemimpinan melahirkan kekuasaan dan wewenang yang gunanya semata-mata untuk memudahkan dalam menjalankan tanggung jawab melayani rakyat.

Demikian paparan Kuliah Perdana yang disampaikan Jenderal (Purn) TNI, Djoko Santoso, M.Si dalam acara Pelantikan Mahasiswa Baru Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA) tahun akademik 2017/2018 di pelataran Kampus 2 UIA, Sabtu 23 September 2017. Hadir dalam acara tersebut, Dewan Pembina dan Ketua Yayasan Perguruan Tinggi As-Syafi’iyah, Rektor UIA, para Wakil Rektor, Dekanat, Direktur, seluruh jajaran karyawan UIA, para undangan, dan mahasiswa baru UIA.

Adapun Pelantikan Mahasiswa Baru UIA 2017/2018, penyampaian Kuliah Perdana dengan mengambil thema: Membangun Indonesia, Transformasi Bangsa Menuju Indonesia Baru Berkeadaban. Dan juga dibagikan buku secara gratis kepada mahasiswa baru, yakni “PARADOKS INDONESIA” Pandangan Strategis Prabowo Subianto.

“Semakin tinggi kekuasaan seseorang, hendaknya semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Bukan sebaliknya, digunakan sebagai peluang untuk memperkaya diri, bertindak zalim dan sewenang-wenang. Balasan dan upah seorang pemimpin sesungguhnya hanya dari Allah SWT di akhirat kelak,” papar Panglima TNI periode tahun 2007-2010 ini.

Untuk itulah, tambah Djoko Susanto, mengajak semua para generasi muda mencontoh para pejuang seperti Jenderal Soedirman yang begitu gigih, baik dalam belajar, strategi berperang, mengayomi masyarakat, dimana Jenderal Soedirman mengenyam pendidikan di pondok pesantren. “Ada 6 ciri wawasan kebangsaan Indonesia yang juga harus ditanamkan kepada generasi muda penerus bangsa,” ujar Djoko Santoso yang lahir di Surakarta – Jawa Tengah, 8 September 1952.

Kesatu, adanya rasa ikatan yang kokoh kuat dalam satu kesatuan dan kebersamaan di antara sesama anggota masyarakat, tanpa membedakan suku, agama, ras maupun golongan. Kedua, saling membantu antara sesama komponen bangsa demi mencapai tujuan dan cita-cita bersama. Ketiga, tidak membangun primordialisme dan eksklusiivisme karena hanya akan merusak persatuan. Keempat, membnagun kebersamaan dengan semboyan, bahwa suka duka anggota masyarakat adalah suka duka seluruh Bangsa Indonesia.

Kelima, mampu mengembangkan sikap untuk berfikir dan berprilaku positif dimanapun berada, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Keenam, senantiasa berfikir jauh ke depan, membuat gagasan untuk kemajuan bangsa dan negaranya menuju kemandirian dan kesetaraan dengan bangsa-bangsa lain. “Serta nilai-nilai tumbuhan jati diri diantaranya adalah aspek keimanan dan toleransi yang sangat tinggi,” tambah Djoko Santoso.

Seusai kuliah perdana itu, Jenderal (Purn) TNI Djoko Santoso mengunjungi Makam, tempat peristirahatan terakhir Prof. Dr. Hj. Tutty Alawiyah, AS, MA dan H.A. Chatib Naseh yang berada di Komplek Pesantren Yatim As-Syafi’iyah, dengan didampingi Prof. Dr. H. Dailami Firdaus, H. Moch. Reza Hafiz SE, Dr. Masduki Ahmad, SH., MM (Rektor UIA), dan seluruh pimpinan UIA lainnya.

Kemudian setelah berdo’a di Makam, Djoko Santoso, M.Si dan rombongan menuju Aula Pesantren Khusus Yatim As-Syafi’iyah dan bertemu seluruh santriwan dan santriwati. Jenderal purnawirawan yang pernah menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Darat ke-24 itu memberikan pengalaman cerita dan memberikan nasihat kepada para santri yatim itu.

Pelantikan MB-UIA 2

Pelantikan MB-UIA 3

Pelantikan MB-UIA 4

Pelantikan MB-UIA 5

Pelantikan MB-UIA 9

Pelantikan MB-UIA 11

Pelantikan MB-UIA 6

Pelantikan MB-UIA 8

Pelantikan MB-UIA 7

Author: 

No Responses

Leave a Reply