Kampus UIA Peringati 72 Tahun Dirgahayu Republik Indonesia

 BERITA UTAMA, KEGIATAN UNIVERSITAS

17-08-2017 aJatiwaringin (UIA) ~ Kemerdekaan Negara Republik Indonesia merupakan anugerah yang besar diberikan Allah SWT, maka sepatutnya kita mensyukurinya serta berterima kasih kepada pendahulu kita, para pejuang yang telah mengorbankan seluruh jiwa dan raga untuk mengusir penjajah penuh dengan semangat kemerdekaan.

Demikian sambutan peringatan 72 Tahun Dirgahayu Republik Indonesia di jajaran Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA) pada hari Kamis, 17 Agustus 2017 pukul 07.00 WIB dan pengibaran Bendera Merah Putih yang dilaksanakan di halaman utama Kampus UIA. Dihadiri seluruh Pimpinan, dosen, karyawan dan mahasiswa UIA.

Sambutan Rektor UIA, Dr. Masduki Ahmad, SH., MM selaku Inspektur Upacara dengan mengambil thema; Semangat Kerja Bersama, Semangat Kolaborasi: Membangun Peradaban Bangsa dalam rangka Menjawab Tantangan Globalisasi. Dari seluruh peserta upacara yang hadir begitu mengikuti dengan penuh khidmat dan seksama.

Yang terhormat,

Ketua Dewan Pembina Yayasan Perguruan Tinggi As-Syafi’iyah (Moh. Reza Hafidz)

Ketua Yayasan Perguruan Tinggi As-Syafi’iyah (Prof.Dr.Dailami Firdaus, SH., LLM., MBA.)

Wakil Rektor 1, 2 dan 3 Pimpinan lainnya tingkat Universitas

Para Pimpinan Lembaga (Direktur) dan Fakultas (Dekan) UIA

Seluruh rekan-rekan staf karyawan akademik dan non-akademik

Seluruh Peserta Upacara yang saya banggakan.

 

Assalamualaikum Wr.Wb

Merdeka ! Merdeka ! Merdeka !

Alhamdulillahirabbil’alamin, Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas atas berkat dan rahmat-Nya lah kita semua masih diberi kesempatan untuk dapat turut serta dalam kegiatan upacara peringatan HUT RI yang ke-72di kampus tercinta, Universitas Islam As-Syafi’iyah. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada junjungan kita habibana wa nabiyana Muhammad SAW, yang telah mengantarkan perdaban manusia dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang hingga saat ini. Juga kepada keluarganya, sahabatnya, dan kepada seluruh umatnya hingga akhir zaman, dan semoga kita tergolong kedalam umatnya.

Para hadirin seluruh peserta upacara yang terhormat,

72 tahun yang lalu, tepatnya hari ini bangsa kita mendapatkan anugerah tuhan yang amat sangat besar, yakni kemerdekaan, setelah berabad-abad lamanya kita berada di dalam belengu penjajahan yang sewenang-wenang, akhirnya cita-cita ini tercapai meskpun penuh dengan pengorbanan. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita harus bersyukur dan berterimakasih kepada para pendahulu kita, para pejuang yang telah rela mengorbankan seluruh jiwa dan raga mereka untuk mengusir penjajah dari tanah air kita. Dengan senjata dan taktik yang kalah jauh dari penjajah, tetapi dengan semangat untuk menggapai kemerdekaan, semua itu bukanlah halangan.

72 tahun yang lalu, merupakan momentum bangsa Indonesia, menyatakan komitmen bersama untuk dapat melepaskan diri dari belenggu penjajahan, berkomitmen secara bersama-sama dalam membangun dan membentuk suatu Negara untuk mencapai kesejahteraan bangsa. Berkomitmen melalui janji kemerdekaannya, untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah; mencerdaskan kehidupan bangsa; berkomitmen untuk turut serta dalam menjaga ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Komitmen tersebut bukanlah hanya sebatas jargon atau ucapan belaka, melainkan sebuah janji kemerdekaan yang senantiasa harus selalu diupayakan. Komitmen bangsa Indonesia ini kemudian dituangkan dalam bentuk Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang hingga saat ini dijadikan sebagai pedoman berbangsa dan bernegara.

72 tahun kita telah merdeka, tetapi bukan berarti perjuangan untuk mempertahankan tanah air ini sudah usai. Bahkan justru sebenarnya perjuangan kita lebih berat, perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan ini. Dulu perjuangan kemerdekaan dilakukan untuk mengusir para penjajah, semangat untuk dapat terbebas dari kolonialisme, semangat berdiri diatas kaki sendiri. Namun saat ini adalah bagaimana kita berjuang agar tujuan dan harapan komitmen awal dari bangsa Indonesia itu dapat tercapai. Yang menjadi pernyataan mendasar saat adalah, apa yang harus kita lakukan dalam mengisi kemerdekaan ini?.

Mari sejenak kita renungkan bersama, bagaimana dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara akhir-akhir (selama satu tahun kebelakang ini). Dalam ranah Politik-sosial, bagaimana dampak dari dinamika politik nasional hingga daerah, menimbulkan adanya dinamika horizontal (konflik sosial-masyarakat). Isu Suku, Adat, Ras dan Agama (SARA) mencuat dan menjadi dasar adanya konflik. Saling menyalahkan, saling menuding, saling menyerang dan saling memfitnah satu sama lain. Terjadi juga tindakan penistaan agama yang dilakukan oleh salah seorang pejabat publik yang kemudian berdampak secara masif dalam ruang lingkup nasional, bahkan internasional. Apakah ini yang diharapkan oleh para Pendiri Bangsa??.

Kemudian dalam konteks penegakan hukum, dapat kita lihat bersama bahwa penegakan hukum saat ini semakin memperkuat pandangan bahwa hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Hukum ditegakan dengan cara tebang pilih, yang cenderung tidak berlandaskan pada nilai dan rasa  keadilan. bahkan tidak jarang proses penegakan hukumnya pun dilakukan dengan menabrak atau menyalahi prosedur hukum acara yang berlaku. Dalam arti, bahwa penegakan hukum akhir-akhir ini mulai memperlihatkan kesewenang-wenangannya, yang justru hal ini sangat bertentangan dengan komitmen awal bangsa Indonesia yakni untuk melindungi segenap tumpah darah bangsa Indonesia.

Dalam bidang ekonomi-sosial, kapitalisasi sistem ekonomi di Indonesia semakin sulit untuk dibendung. Kesenjangan ekonomi yang semakin jauh, kemudian harga kebutuhan logistik pangan sehari-hari masyarakat yang naik, seperti garam (dilakukan impor), beras, gula, tempe, cabai, bawang dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Apakah dengan ini dapat mensejahterakan bangsa Indonesia?

Kemudian yang utama adalah dalam bidang Pendidikan, khususnya Pendidikan Tinggi. Rezim saat ini adalah rezim administrasi pendidikan, bagaimana mekanisme pemenuhan pendidikan di Indonesia itu dilaksanakan dengan kebijakan yang sangat administratif yang cenderung justru tidak substantif.Saat ini dapat dirasakan bersama bahwa rezim administrasi pendidikan tinggi oleh pemerintah masihsangat kuat di berbagai aspek (tridharma). Baik Akademik Pendidikan atau pengajaran yang meliputi,kurikulum, tenaga dosen, kepangkatan, program studi dan hal lainnya di bidang akademik. Kemudian dibidang penelitian dan pengabdian pada masyarakat, kebijakan pemerintah cenderung mendorong kitauntuk mengikuti sistem di Negara-negara lain. Sebagai contoh dalam publikasi penelitian (jurnal ilmiahbereputasi/terindeks scopus, doaj, dll) yang di satu sisi belum tentu secara substansial itu sesuai danmenguntungkan bagi perkembangan kehidupan bangsa Indonesia. Hal ini yang kemudian cenderung tidak mendorong tercapainya tujuan adanya pendidikan tinggi secara substansi. Lalu kemudian muncul pertanyaan, apakah ini yang dinamakan mencerdaskan kehidupan bangsa?

Republik ini merdeka bukan sekedar untuk menggulung kolonialisme. Republik ini hadir untuk menggelar kesejahteraan, kemakmuran, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Republik ini datang bukan dengan cita-cita.Republik ini bukan datang dengan harapan.Republik ini datang dengan janji. Cita-cita adalah sesuatu yang ingin kita raih, bila kita berhasil meraihnya maka kita syukuri. Tapi bila gagal, kita revisi cita-cita itu. Republik ini berjanji dan janji tidak bisa direvisi, janji harus dilunasi, pada setiap anak bangsa Indonesia. Apa janji republik ini ?Republik ini berjanji Melindungi, berjanji Mencerdaskan, berjanji Mensejahterakan, dan berjanji membuat setiap kita menjadi bagian dari dunia.Janji ini bukan janji pemerintah, janji ini adalah janji seluruh bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, Universitas Islam As-Syafi’iyah sebagai salah satu Penyelenggara Pendidikan Tinggi berperan penuh untuk dapat melunasi janji kemerdekaan kita.Ini bukan sekedar tanggung jawab pemerintah, ini tanggung jawab kita semua. Karenanya pemenuhan janji ini panggilan ini adalah tugas kita semua, mari kita lunasi janji ini.

Kita berjanji melindungi, artinya apa? Republik ini tidak dirancang untuk melindungi Minoritas, tidak dirancang untuk melindungi Mayoritas, republik ini dirancang untuk melindungi setiap warga Negara Indonesia secara tanpa syarat. Siapapun, dimanapun, agama apapun, keyakinan apapun, etnis apapun, bahasa apapun, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perlindungan yang sama republik ini.

Yang kedua kita berjanji untuk mensejahterakan, kita berjanji untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Walaupun hingga saat ini, problem pendidikan dan kesejahteraan ekonomi masih menjadi tantangan bangsa Indonesia, namun Alhamdulillah, kita bisa melihat karya-karya inovasi dan kreasi anak bangsa saat ini, mobil listrik, juara olimpiade matematika, fisika, internasional, karya-karya inspiratif lainnya yang membuat nama Indonesia semakin berkibar di dunia Internasional. Apabila dibanding dengan 72 tahun yang lalu, bagaimana kondisi bangsa yang mayoritas penduduknya bukan hanya tidak sekolah, melainkan buta huruf. Kondisi ini sebenarnya faktor yang bisa membuat timbulnya rasa pesimis, keterbelakangan, miskin, tak terdidik. Namun, pada saat kemerdekaan itu diproklamirkan, kita (bangsa Indonesia) menolak keras rasa tersebut, kita lebih memilih untuk optimis, berkomitmen untuk membangun bangsa, membangun peradaban bangsa yang cerdas, mewujudkan kesejahteraan bangsa Indonesia.

Kalau kita ingin maju menjadi bangsa yang besar, jangan fokus pada material, jangan fokus pada sumber daya alam, tapi fokus pada manusia Indonesia.Kunci memajukan Indonesia pada manusianya. Tapi kita sering merasa kekayaan terbesar kita adalah, minyak, gas, tambang, laut, hutan, itu kekayaan tapi hidayah terbesar adalah Manusia Indonesia.Itu kekayaan terbesar kita. Begitu manusianya terkembangkan, manusianya tercerdaskan, maka seluruh potensi ini bisa diubah menjadi potensi yang membuat kita meraih kesejahteraan.

Terdapat kesamaan dan kesesuaian corak khas perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia dengan semangat perjuangan pada pendiri UIA yakni KH. Abdullah Syafii dan khususnya Prof. Dr. Hj. Tutty Alawiyah, AS MA. Semangat perjuangan untuk mewujudkan bangsa yang cerdas, mewujudkan kesejahteraan sosial dan membangun peradaban bangsa yang maju diupayakan melalui 3 bidang cara, Pendidikan, Dakwah dan Sosial. Bidang Pendidikan, diwujudkan dalam bentuk formal institusi Perguruan Tinggi sebagai upaya mencetak manusia yang unggul, cerdas, dan berdaya saing. Kemudian bidang dakwah, melalui gerakan organisasi kemasyarakatan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), sebagai basis gerakan kaum perempuan (ustadzah) Indonesia dalam mewujudkan bangsa Indonesia yang  rahmatan lil ‘alamin. Dan di bidang sosial, salah satu bentuk penanaman nilai pengabdian sosial dalam rangka mewujudkan kesejahteraan sosial melalui pesantren khusus yatim As-Syafi’iyah. Ketiga bidang perjuangan ini sangat relevan dan saling berkaitan dengan tujuan dari bangsa Indonesia. Oleh karena itu, dapat diartikan bahwa menjaga dan memajukan UIA untuk kemaslahatan umat (bangsa Indonesai) adalah salah satu wujud menjaga dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dalam rangka melunasi janji-janji kemerdekaan.

Mau tidak mau, sadar tidak sadar, dan siap tidak siap, pesatnya arus globalisasi yang saat ini terjadi menimbulkan persaingan yang begitu ketat, terbuka dan tantangan yang semakin berat.Globalisasi yang berbasis digitalisasi, yang kemudian dikenal dengan istilah Revolusi Industri (Teknologi dan Informasi), mengarahkan kita ke dalam milenium ketiga yang tidak hanya menawarkan berbagai peluang baru, tetapi juga tantangan baru bagi umat manusia.Permasalahan yang dihadapi semakin bersifat majemuk, kompleks dan multidimensi. Tidak ada permasalahan bangsa yang bisa diselesaikanhanya dari satu cara pendekatan semata.

Oleh karena itu, persaingan yang semakin terbuka dan ketat harus dihadapi dan disiasati dengan saling berkolaborasi, dengan saling berkeja sama, saling mengisi satu sama lain pada bidang apapun, terkhusus dalam bidang Perguruan Tinggi (meningkatkan dan memajukan kualitas UIA). Hal ini kemudia menjadi relevan dan sesuai dengan Grand Theme HUT RI ke-72 yang digagas oleh Pemerintah saat ini yakni “Indonesia Kerja Bersama”. Dengan semangat inilah, kita semua dapat menjawab berbagai macam tantangan zaman.Kaitannya dengan Universitas Islam As-Syafi’iyah. Take LineIndonesia Kerja Bersama” mendorong kita semua (yang menjadi bagian di UIA) untuk saling mengisi, saling melengkapi dan saling menginspirasi satu sama lain dalam rangka mewujudkan cita-cita luhur para Pendiri UIA (KH. Abdullah Syafi’i dan Prof.Dr.Hj.Tutty Alawiyah, MA). Kita berkomitmen untuk tidak saling menyalahkan, tidak saling menuduh atau bahkan saling menebar kebencian.Namun semangat kita semua adalah saling memotivasi, saling berbagi solusi, dan saling berkontribusi dalam rangka meningkatkan kualitas serta mencapai kemuliaan cita-cita UIA.

Marilah kita jadikan momentum HUT kemerdekaan Ri ke-72 ini untuk kembali bersama-sama meningkatkan semangat kita, rasa optimisme kita, rasa gotong royong kita, serta jiwa saling berkontribusi dan berkolaborasi kita semua untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia, khususnya cita-cita luhur Universitas Islam As-Syafi’iyah.

Di akhir acara peringatan, seluruh jajaran pimpinan UIA berfoto bersama. Kemudian untuk memeriahkan peringatan 72 Tahun Dirgahayu Republik Indonesia di lingkungan Kampus UIA, menyelenggarakan berbagai lomba yang di ikuti peserta dari jajaran Dosen, Karyawan dan Mahasiswa UIA.

17-08-2017 f

17-08-2017 b

17-08-2017 c

17-08-2017 d

17-08-2017 e

Author: 

No Responses

Leave a Reply