BIOGRAFI PROF. DR. HJ. TUTTY ALAWIYAH AS, MA

 ENSIKLOPEDIA

1Prof. Dr. Hj. Tutty Alawiyah AS, MA lahir di Jakarta, 30 Maret 1942, merupakan putri ketiga dari pasangan Ulama besar K.H. Abdullah Syafi’ie dan Hj. Rogayah. Putri Betawi asli itu dianugerahi oleh Allah SWT bakat dan kemampuan yang luar biasa.!

Sehingga Prof. Tutty Alawiyah mampu menekuni dan berkiprah hampir dalam semua sektor kehidupan, mulai dari agama dan keulamaan, dakwah, pendidikan, politik pemberdayaan perempuan, sosial ekonomi, hingga seni dan budaya Islam.

Dengan pengalaman dan kiprahnya yang luar biasa besar dalam bidang-bidang tersebut, Prof. Tutty Alawiyah agak sulit dicarikan padanannya pada masa sekarang. Selain multidimensi dan enciklopedis, tokoh yang satu ini memiliki karakter yang khas yang membuatnya berbeda dari yang lain, she is different with orders.

Dalam bidang pendidikan, Prof. Hj. Tutty Alawiyah merupakan salah seorang pendiri Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA) Jakarta, yang diajak ayahandanya mewujudkan impian dalam bidang pendidikan. UIA sebagai perguruan tinggi Islam yang diharapkan menjadi kebanggaan masyarakat Islam Indonesia.

Universitas Islam As-Syafi’iyah benar-benar menjadi sebuah perguruan tinggi yang sangat dikenal di semua kalangan, tidak hanya dalam negeri, juga luar negeri. Banyak sudah tokoh-tokoh yang datang ke Kampus UIA, baik itu sebagai pembicara dalam Stadium Generale, Seminar, Kuliah Umum, dan lain-lain, hingga datang sebagai untuk melihat secara langsung Universitas Islam As-Syafi’iyah.

Prof. Hj. Tutty Alawiyah berjuang dengan terus membenahi Kampus UIA, membangun gedung-gedung perkuliahan, sarana dan pra-sarana kampus, laboratorium, klinik dan lain sebagainya.

Apa yang di impikannya untuk membangun gedung Kampus UIA ternyata menjadi kenyataan, satu persatu gedung Kampus diselesaikan. Gedung Kampus II UIA yang berada di Komplek Yatim As-Syafi’iyah rampung dan diresmikan tanggal 10 Januari 2016, kemudian Gedung Kampus III UIA yang berada di Sentul Bogor, Jawa Barat sedang tahap pembangunan, Kampus IV UIA yang diresmikan Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin pada tanggal 17 Juni 2014.

Kampus UIA yang dipimpin Prof. Hj. Tutty Alawiyah, perjuangannya sangat luar biasa, dengan berusaha sekuat tenaga dalam mencari dana untuk semua itu dilakukannya dengan penuh sabar, berdo’a, serta ikhlas dengan dibantu putra-putrinya, H.M. Reza Hafiz (anak pertama), Prof. Dr. H. Dailami Firdaus (anak kedua), Nurfitria Farhana, Lily Kamalia dan Syifa Fauzia.

2Di Kampus UIA, Prof. Tutty Alawiyah dan beberapa intelektual muslim lain, membuat inovasi Pendidikan Islam, yakni konsep Integrasi Ilmu dan Agama, yang belakangan banyak diadopsi dan di ikuti oleh perguruan-perguruan tinggi lain di Indonesia dan Malaysia.

Sebagai Rektor UIA, pergaulan intelektual Prof. Tutty Alawiyah semakin luas, baik dalam maupun luar negeri. Kerjasama ditandatatangani dengan berbagai perguruan tinggi terkemuka di Asustralia, Asia, Afrika, Eropa hingga Amerika Serikat.

Di tahun 2013, jabatan penting Prof. Hj. Tutty Alawiyah dalam dunia pendidikan tinggi bertambah, beliau dipercaya dan diberi amanat sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Asosiasi Badan Penyelanggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABP PTSI) yang membawahi 3.000-an lebih Perguruan Tinggi Islam dan non-Islam seluruh Indonesia.

Dalam kedudukannya sebagai Ketua Majelis Pertimbangan, Prof. Tutty Alawiyah harus bergaul dengan tokoh-tokoh pendidikan dan penyelenggara pendidikan tinggi secara luas, tak hanya dari kalangan Muslim, tetapi juga kalangan bukan Islam. Di forum ini, Prof. Tutty Alawiyah biasa memimpin rapat dan bertukar pikiran tentang masa depan PTSI, terutama menghadapi ASEAN Community.

Sejak beberapa tahun terakhir, Prof. Hj. Tutty Alawiyah mencanangkan program besar “UIA Good to Great”, dengan memperkuat Sumber Daya Manusia (SDM), program riset, pengembangan program studi, dan kerjasama dengan luar negeri. Kini UIA telah memiliki program S.2 (Magister) dan S.3 (Doktor).

Sejalan dengan pengembangan UIA, Prof. Hj. Tutty Alawiyah menggagas Jatiwaringin sebagai “Kota Ilmu” (Madinat al-Irfan). Dengan As-Syafi’iyah, Jatiwaringin terus tumbuh dan bergerak maju, dari Kota Pelajar ke Kota Ilmu, dari Madinat al-Thullab ke Madinat al-Irfan.

Gagasan Jatiwaringin sebagai Kota Ilmu (Madinat al-Irfan) di inspirasi oleh Hadist Nabi Muhammad SAW yang amat masyhur;

3

“Aku adalah Kota Ilmu, dan Ali bin Abi Thalib adalah pintunya. Siapa yang hendak memasuki kota itu, datangilah pintu-(nya).” (HR, Hakim dari Abdullah ibn Abbas).

Secara teori, Kota Ilmu dibangun atas pemikiran bahwa ilmu adalah kekuatan (knowledge is power). Ilmu adalah pangkal kemajuan, baik kemajuan ekonomi, politik dan budaya (peradaban).

Dalam kearifan Arab, terdapat ungkapan; “Wa Qimat al-mar’I ma ‘alima wa ma ‘amila bih.” (Kemajuan manusia/masyarakat ditentukan oleh ilmu dan amal-nya). Dari dahulu hingga kini, kata Peter Drucker, ilmu tetap menjadi asas kemajuan. Ilmu melahirkan ilmu, gagasan baru, kompetensi-kompetensi baru, dan lebih penting dari itu, ilmu juga melahirkan inovasi-inovasi.

4Konsep Kota Ilmu (Madinat al-Irfan) memiliki kesamaan dengan konsep modern tentang “Masyarakat Ilmu” (Knowledge Society) yang digagas oleh Badan Dunia UNESCO. Masyarakat ilmu adalah masyarakat yang memiliki perhatian tinggi terhadap ilmu dan budaya, serta tumbuh dan dikembangkan sumber-sumber pembelajaran ditengah-tengah masyarakat sehingga terjadi kemakmuran. Dalam satu pengertian disebutkan: “A Knowledge Society is one that creates, shares, and uses knowledge for the prosperity and well-being of its people.” Ada 4 syarat Masyarakat Ilmu versi UNESCO, yaitu; – Cultural diversity, – Equal access to education, – Universal access to information (in the Public Domain), – Freedom of expression.

Sebagai Kota Ilmu, Jatiwaringin dengan As-Syafi’iyah didalamnya, akan terus dikembangkan dari waktu ke waktu. Dulu Kota Pelajar (Madinat al-Thullab), sekarang Kota Ilmu (Madinat al-‘Irfan). Ini berarti Jatiwaringin tak bisa dipisahkan dari As-Syafi’iyah. Bahkan tak berlebihan bila dikatakan, tak ada Jatiwaringin tanpa As-Syafi’iyah: “Lawla As-Syafi’iyah lama kanat Jatiwaringin.”

Konsep Jatiwaringin sebagai Madinat al-‘Irfan (Knowledge Society), akan dikembangkan secara lebih luas di daerah Sentul Bogor, Jawa Barat di atas lahan seluas 15 hektar, dengan diberi nama “Pusat Dakwah Tutty Alawiyah”.

Di bidang sosial, Prof. Tutty Alawiyah telah diberi tugas dan amanah untuk mengelola dan mendidik anak-anak yatim dari kalangan tidak mampu. Dia benar-benar seorang penyantun dan pengayom anak-anak yatim dalam kedudukannya dan kapasitasnya sebagai Pendiri dan Penanggungjawab Pesantren Khusus Yatim As-Syafi’iyah.

Sebagai penggerak seni budaya Islam yang sejak muda gemar membuat puisi-puisi Islami, melatih qari’/qari’ah, mencipta lagu, qasidah, hingga madihat dan dzikir yang dikenal dan tersebar ke mancanegara.

Dengan segala perjuangan, pengorbanan dan pengabdian Prof. Dr. Hj. Tutty Alawiyah AS, MA juga dirasakan oleh anak-anaknya. Seperti ungkapan kelima anaknya, yakni;

Kami sangat bersyukur terlahir dari seorang sosok yang sangat luar biasa Tutty Alawiyah. Sungguh sangat beruntung, karena beliau telah memberikan segalanya kepada kami. Kecintaan, kasih sayang, perhatian dan segalanya. Tak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata.

Rasa sayang beliau kepada kami, semua anak-anaknya diberikan dengan tidak dibeda-bedakan, semua mendapat kesempatan dan kasih sayang yang sama. Tetapi, keberuntungan yang kami dapatkan, putra putrinya tidak dirasakan oleh ibunda kami.

Sejak kecil beliau sudah terbiasa berjuang, hingga beliau mendapat pengakuan Doktor dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, di Jakarta, dan kemudian mendapat pengakuan dan diangkat menjadi guru besar / Profesor dari sebuah Universitas ternama di China, Liu Zhou.

Sungguh perjalanan karier pendidikan yang sangat luar biasa. Sangat jarang orang dapat berhasil mencapai ke jenjang pendidikan tertinggi, dengan liku yang sedemikian berat, tetapi dengan tekad dan perjuangan, semua terlampaui dan tercapai..! Ibunda kami adalah sosok yang punya pikiran maju dan berpikir sangat jauh ke depan.

SEBAGAI ULAMA & BKMT

photo-ibu-tutty-alawiyahSebagai ulama, Prof. Hj. Tutty Alawiyah menjadi rujukan dan tempat umat bertanya. Pandangannya tentang Islam sangat modern dan visioner. Ia melihat Islam sebagai agama kemajuan dan peradaban. Mimpi besarnya adalah mewujudkan Islam Universal dan peradaban Islam kosmopolit, seperti ditulis dalam bukunya ‘Mengenal Peradaban Dunia (2002), dan buku ‘Menggapai Panggung Dunia’ (2006).

Pengalamannya mengunjungi 63 kota besar di 23 negara demi kepentingan berdakwah dan kegiatan sosial mengharumkan namanya sehingga ia layak dianugerahkan gelar doktor honoris causa bidang dakwah Islam dari IAIN Syarif Hidayatullah dan gelar profesor dari Federation Al Munawarah, Berlin Jerman.

Mantan Menteri Negara Peranan Wanita dalam dua pemerintahan yang berbeda – Kabinet Pembangunan VII tahun 1998 jaman Soeharto dan Kabinet Reformasi Pembangunan jaman Habibie – atas jasa ayahnya yang besar dalam bidang pendidikan Islam, pemerintah menganugerahkan penghargaan Bintang Maha Putera Pratama, dan Pemerintah Khusus Ibukota menggunakan namanya sebagai nama jalan utama menggantikan Jl. Lapangan Roos dan Kampung Melayu Besar.

Mubaligah kondang dan Rektor Universitas Islam As-Syafi’iyah ini mempunyai visi bahwa perempuan Indonesia adalah pilar bangsa. Kemampuan intelektualnya dan banyaknya jam terbang menjadi pembicara dan penceramah di berbagai kota di 5 benua, hanyalah sedikit bukti bahwa perempuan memiliki kesempatan dan hak yang sama dengan laki-laki dalam berkarya di berbagai sektor bagi bangsa ini.

Ia pernah diundang pemerintah Amerika Serikat tahun 1984 untuk bertemu dengan para tokoh dari berbagai agama, tokoh-tokoh pendidik dari perguruan tinggi, tokoh-tokoh wanita dan mengunjungi lembaga-lembaga sosial dan keagamaan.

Di Singapura ia melihat wanita tampil dengan baik dalam segala peran kehidupan, baik muda ataupun tua. Mereka memimpin sekolah seperti ustadzah Saadah Suhaimi di Ipoh Lane. Wanita-wanita Islam berbahasa Inggris, berpakaian trendy, menyetir mobil sendiri, bekerja di luar, punya organisasi yang mapan. Ia melihat di sana seperti tidak ada hambatan untuk maju dan berkarier. Melihat hal ini, ia tertarik ingin menerapkannya kepada kawan-kawan dan murid-muridnya di Indonesia.

Langkah awalnya adalah dengan memodifikasi baju muslim. Ia terapkan baju dua helai atas bawah dengan berbagai variasi kancing dan belah samping, karena ia tidak mau terikat dengan baju berkain panjang. Baginya, pengalaman di Singapura ini membuka beberapa tali belenggu sempitnya pemikiran terhadap peluang-peluang kemajuan untuk wanita terutama wanita Islam yang ingin tampil dalam berbagai kesempatan dan kegiatan.

Di Malaysia, ia berdakwah di Johore Baru dan Muar serta Batu Pahat. Saat itu ia mendapat kehormatan besar karena diundang oleh isteri Sultan Johore. Di Masjid Abu Bakar yang megah, ia memberikan acara lengkap, sejak dari bacaan Al-Quran, ceramah, dan ditutup dengan beberapa lagu qasidah serta puji-pujian kepada Rasulullah SAW. Dua Permaisuri Agung Malaysia bahkan pernah berkunjung ke Pesantren Khusus Yatim As-Syafi’iyah tahun 1984 dan 1986. Hingga kini, Tutty masih sering diundang untuk berdakwah di Malaysia Barat dan Timur.

Selain berdakwah, masa remajanya juga diisi dengan menulis puisi dan artikel yang dimuat di beberapa surat kabar ibukota. Beberapa puisinya seperti Santri, Pesantren, Ulama dan Nafiri Ilahi diterbitkan oleh koran Minggu Abadi dan Berita Minggu. Usahanya dalam menerjemahkan ayat Al’Quran ke dalam bentuk puisi membuahkan hasil. Puisinya berjudul Yusuf yang Agung menjadi puisi terbaik versi RRI tahun 1960, dimana penyelenggaranya adalah Abdul Muthalib, pengasuh rubrik “Tunas Mekar”. Kebetulan waktu itu, ia sering diajak oleh Sdr. Mahbub Junaidi, seorang penulis sastra, mengisi acara di situ.

6Dalam sosoknya sebagai ulama, ia dipercaya sebagai salah seorang Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) hingga akhir hayatnya. Beberapa tahun lalu, Prof. Tutty Alawiyah diminta Menteri Haji Arab Saudi, sebagai pembicara wanita satu-satunya dalam kongres besar haji (Nadwah al-Haj al-Kubra) di Mekkah.

Sebagai tokoh agama, Prof. Hj. Tutty Alawiyah bias diterima oleh semua lapisan masyarakat dari kelas bawah (lower class) hingga ke kalangan atas (elite class), dan dapat bergaul dengan kelompok-kelompok Islam dengan aliran pemikiran (madzhab) yang berbeda-beda. Baik itu tradisional, salafi, hingga modern dan pasca-moderen, tanpa kehilangan jatidiri dan daya kritisnya sebagai ulama.

Begitu juga sebagai ulama, Prof. Tutty Alawiyah bergelut dalam bidang dakwah yang ditekuni sejak muda belia. Ia harus memimpin pengajian kaum ibu As-Syafi’iyah, menggantikan Ibunda Hj. Ruqaayah yang wafat sewaktu Prof. Tutty Alawiyah berusia 9 tahun dan kakaknya meninggal dunia saat dia berusia 15 tahun.

Sejak itu Tutty Alawiyah kecil terus berdakwah, tak hanya di Jakarta, tetapi juga di Negara-negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam. Dimana dalam dakwahnya, Prof. Tutty Alawiyah membuat inovasi-inovasi, antara lain mendirikan Radio Dakwah As-Syafi’iyah, membentuk Persatuan Ustadzat dan Mubalighat, P.M.U yang kemudian melahirkan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) yang dikenal luas, tak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai Negara.

Sedangkan BKMT adalah sebuah organisasi yang berdiri tahun 1981 atas prakarsa As-Syafi’iyah dengan mengundang pengurus-pengurus Majelis-Majelis Taklim Se-Jabotabek untuk bermusyawarah di Pesantren As-Syafi’iyah.

Pertemuan itu dihadiri lebih dari 1500 pimpinan Majelis Taklim yang mewakili 798 Majelis Taklim se-Jabotabek. Di usianya yang lebih dari dua dekade, BKMT sudah tersebar di 22 propinsi seluruh Indonesia dengan jutaan anggota dan belasan ribu majelis taklim.

Saat As-Syafi’iyah genap berusia 50 tahun, Masjid Al Barkah diperluas dengan membebaskan sekitar 16 rumah di sekitar masjid. Demi pembangunan ini, Tutty merelakan rumah dan tanahnya yang sudah didiami selama 23 tahun untuk dirobohkan pada bulan Desember 1983. Ia lalu membangun rumah kecil yang tidak jauh dari tempat tersebut.

500 TOKOH MUSLIM BERPANGARUH

7Pantas jika The Royal Islamic Strategic Studies Centre (Pusat Studi Strategis Islam Kerajaan), bekerjasama dengan Prince Alwaleed bin Talal Center for Muslim Christian Understanding Georgetown University (Pusat Studi Kepahaman Islam-Kristen Pangeran Alwaleed bin Talal, Universitas Georgetown), Amerika Serikat, pertama kalinya menerbitkan buku “The 500 Most Influential Muslims in The World” (500 Tokoh Muslim Dunia Sangat Berpengaruh) tahun 2009.

Ke 500 Muslim paling berpengaruh di dunia sepanjang tahun 2009 dibagi dalam 15 kategori. Antara lain, kategori ulama, politisi, cendekiawan, perempuan, pemuda, ilmu dan teknologi, media sampai muslim radikal.

Buku itu diterbitkan dengan tujuan membantu dan membuka wawasan tentang pengaruh umat Islam dan beragamnya kelompok Islam di seluruh dunia. Dalam buku The 500 Most Influential Muslims in The World itu, Prof. Dr. Hj. Tutty Alawiyah AS, MA tercantum pada halaman 127.

Prof. Hj. Tutty Alawiyah termasuk satu dari empat tokoh Muslim Indonesia, KH. Hasyim Muzadi, Dr. Din Syamsuddin, KH. Abdullah Gymnastiar, di antara 500 tokoh Muslim yang dianggap memiliki kemampuan untuk mempengaruhi kondisi kemanusiaan.

Mereka dianggap mampu membawa perubahan dalam kehidupan banyak orang, penyusunan buku ini melibatkan pengamat dunia Islam yang dikenal luas di dunia, Prof. John Espositu dan Prof. Ibrahim Kalin, sebagai editor utama.

MASA KECIL

8Lahir dalam lingkungan tradisi budaya Betawi yang kental, Prof. Hj. Tutty Alawiyah di masa kecilnya tidak memperoleh pendidikan umum yang cukup. “Sekolahku tidak berjalan mulus,” demikian ungkapan Hj. Tutty Alawiyah mengenang masa lalu saat diwawancara Pemimpin Redaksi Majalah ‘Garda’ Jakarta, (Alm) H. Adi Kesuma Pasaribu.

Ayahnya yang mendidiknya penuh disiplin, memang memiliki madrasah Al-Islamiyah. Tetapi untuk bias masuk Sekolah Rakyat (SR), dia harus belajar selama dua tahun. Bahkan dia bersikeras bersekolah di dua tempat, Madrasah dan SR.

Lantaran tekadnya yang keras, Tutty Alawiyah kecil harus jalan kaki dari rumahnya ke Kampung Bali Matraman menuju SR Negeri di Jl. Slamet Riyadi. Dia hanya dibekali uang jajan sangat sedikit. Hal itu dianggapnya wajar karena ayahnya seorang Kiyai yang hidupnya sangat sederhana.

Pendiri Kampus UIA itu mengenang, pernah suatu kali dia menyampaikan keinginan mengikuti perjalanan dakwah ayahnya ke Singapura. Dia meminta ijin dari ayahnya, KH. Abdullah Syafi’ie, boleh tetapi harus bayar sendiri. Untuk itu Hj. Tutty Alawiyah diam-diam menabung dari hasil honornya mengajar.

Kemahiran Tutty dalam membaca Al-Quran lengkap dengan tajwid dan lagunya tidak lepas dari ajaran ibunya tercinta, H. Rogayah, seorang ustadzah dan qoriah. Tutty kecil kebagian peran membaca beberapa ayat suci Al-Quran di kala ibunya sedang mengajar di kampung-kampung. Kemampuannya menulis tulisan Arab Melayu (huruf Jawi) juga didapat dari ibunya. Sekedar iseng sambil mengasah kemampuan, ia dan kakaknya, H. Muhibbah mendengarkan lagu di radio seperti penyanyi Lagu Keroncong Bengawan Solo, Hanya Engkau, Sepasang Mata Bola, dan lagu melayu lainnya, lalu mereka berlomba siapa yang lebih dulu selesai menulis syair lagu tersebut dalam tulisan Arab Melayu.

Di sekolah, Tutty menjadi siswa yang baik dan berprestasi. Pernah suatu kali, Tutty yang bercita-cita bisa naik haji ini mendapat hadiah arloji karena prestasinya di sekolah. Walaupun begitu, sama seperti layaknya anak kecil yang ingin bermain dan terkadang nakal, Tutty dan sabahatnya, Rinjani yang tinggal di Bukit Duri, iseng-iseng bersepeda hingga ke Kemayoran dan pernah tersesat sampai ke Kebayoran Lama. Tutty dan Rinjani sering jalan bersama, bermain kasti dan olah raga lari.

Tahun 1951, 40 hari setelah kedua orang tuanya kembali ke Indonesia dari tanah suci, ibunda tercinta, H. Rogayah, meninggal dunia. Kesepian dan kesedihan yang dialaminya ia lewati dengan kesibukan yang semakin bertambah. Ia mulai dikenal dan diundang membaca Al-Quran dimana-mana, menulis puisi dan artikel yang dimuat di beberapa surat kabar ibukota, memberikan kursus-kursus, dan berceramah di depan umum.

Setahun setelah kepergian ibunya, di usianya yang ke 10, Tutty yang sudah mampu mengetik dengan kecepatan 260 ketukan per menit ini memberikan kursus membaca dan menulis huruf latin kepada beberapa wanita di daerah Pancoran. Seminggu dua kali, Tutty ditemani Dahlia sepupunya, bersepeda bonceng membonceng ke rumah Ibu Halimah untuk mengajar dan mendapat upah beberapa rupiah yang kemudian mereka bagi dua.

Pengalamannya memberikan kursus ternyata tidaklah sia-sia. Di usia 13 tahun, Tutty mulai mengajar secara tetap dengan membuka 3 kursus yaitu Kursus Banat As-Syafi’iyah, diisi dengan pelajaran agama, pelajaran Maulid Nabi, dan membaca Al-Quran, dengan murid 200 orang lebih, Kursus Umahat As-Syafi’iyah, khusus untuk ibu-ibu yang ingin mendalami agama, dengan murid 100 orang (2 kelas) dan yang terakhir, Kursus Tilawatil Quran yang diikuti 40 orang. Kursus ini terus berlanjut hingga 1980. Tiga tahun kemudian, tahun 1958, kakaknya H. Muhibbah meninggal dunia. Sejak itu, ia dipercaya secara penuh memimpin Majelis Taklim Kaum Ibu As-Syafi’iyah dan melanjutkan pengajian setiap Sabtu pagi di Masjid Al Barkah.

Cita-citanya agar bisa keluar negeri akhirnya kesampaian juga. Melihat bakat Tutty dalam berpidato, membaca Al’Quran, dan mendendangkan lagu-lagu qasidah, sang ayah mengajak Tutty berdakwah di Singapura dan Malaysia tahun 1959.

Di Singapura ia dipercaya oleh Bapak Sugih Arto, Konsulat Jenderal Republik Indonesia untuk berceramah di depan masyarakat Indonesia yang datang lebih dari 500 orang. Di Singapura pulalah ia mendapat pengalaman pertama yang tak terlupakan dimana ia terpaksa berceramah di depan umum tanpa teks karena naskah ceramahnya ketinggalan.

Pengalaman ini menjadi titik balik, dimana dalam ceramah-ceramah selanjutnya ia tidak lagi menggunakan catatan tertulis yang baku, kecuali dalam seminar atau pidato resmi. Kaset-kasetnya mulai banyak beredar di toko-toko kaset Singapura. Bahkan ada pula yang menamai anaknya dengan nama Tutty Alawiyah dan Abdullah Syafi’ie.

Kemudian Tutty Alawiyah menikah dengan Ahmad Chatib Naseh dan dikaruniai 5 orang putra-putri. Walaupun ia menikah di usia yang masih muda (18 th), dan masih duduk di bangku SMA dengan kesibukan yang bertumpuk, Tutty dapat mengurus keluarganya, seperti layaknya ibu rumah tangga lainnya dan berhasil meraih kesarjanaan dari Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tahun 1963 ia mulai memperkenalkan seni qasidah di TVRI. Salah satunya adalah dengan menampilkan pelajar-pelajar menyanyikan koor lagu-lagu As Syafi’iyah yang ia ciptakan sendiri. Lagu-lagu ciptaannya direkam ke kaset atas bantuan seorang Qori, almarhum H. Muhammadong. Sedangkan kaset ceramah direkam di Radio As-Syafi’iyah. Sebuah radio yang kemudian dirintisnya tahun 1967.

Radio ini menyajikan program Santapan Rohani Pagi, Berita Pagi, Dunia Selintas Kilas, Renungan Malam, Varia As-Syafi’iyah, Pilihan Pendengar. Di Bulan Ramadhan dibuat program khusus bernama Renungan Sahur yang dibawakan oleh Tutty selama 17 tahun sejak tahun 1968-1985. Kaset ceramahnya saat itu laku keras di pasaran Indonesia, Singapura dan Malaysia.

Dalam rangka merayakan ulang tahun As-Syafi’iyah tahun 1968, Tutty mengadakan acara besar di Stadion Utama Senayan yang dihadiri sekitar 60.000 orang. Dalam kurun waktu 10 tahun, 1970-1980, As-Syafi’iyah yang dipimpinnya dipercaya untuk menangani kegiatan-kegiatan besar seperti pembukaan MTQ V tahun 1972. Saat itu, As-Syafi’iyah mengerahkan hampir 6.000 orang, terdiri dari 2.500 pemain rebana, 2.000 senam indah, dan drum band yang ditangani oleh sebuah organisasi rebana bernama LASQI (Lembaga Seni Qosidah Indonesia), sebuah organisasi yang diprakarsai oleh Tutty dan kawan-kawan.

PRESIDEN IMWU

9Perjalanan ke luar negeri pertama ke Singapura dan Malaya (Malaysia) pada tahun 1959/1960, membawa berkah tersendiri bagi Hj. Tutty Alawiyah. Dengan dilanjutkan dengan berbagai undangan-undangan muhibah ke luar negeri datang silih berganti.

International Moslem Women’s Union (IMWU) yang berpusat di Khartoum, Sudan. Organiasi Wanita Muslim se-Dunia, beliau dipercaya sebagai Presiden Perhimpunan Wanita Islam se-Dunia periode 2007-2010.

Hj. Tutty Alawiyah terpilih sebagai Presiden IMWU pada kongresnya yang ke-empat di Kuala Lumpur, Mei 2007. Organisasi ini membawahi hingga ratusan negara di dunia. Kemudian beliau juga dipercaya menduduki jabatan tertinggi, Presiden Council of Trustees yang beranggotakan 30 negara.

Dia pernah diundang oleh istri Pangeran Sultan Brunei untuk tausiyah pada Isra Mi’raj di Istana Nurul Izzah. Di Filipina, Hj. Tutty Alawiyah member pandangan di depan Ny. Gloria Macapagal Arroyo yang ketika itu menjadi Wakil Presiden Filipina.

Kemudian berpidato di Thailand dan siding-sidang IMWU, di Korea Selatan di hadapan mahasiswa Daek-yeung Collage. Di Hongkong, Tunisia, Mesir, Afrika Selatan.

Di benua Arika, Prof. Hj. Tutty Alawiyah menjadi anggota Moslem Women’s Federation of Southern Afrika. Dia juga menjadi Pembina sekolah ‘Tuan Yusuf Learning Centre’ di Cape Town.

Dia sangat bersyukur bias berceramah di Istambul, Turki, pada Forum Internasional Al-Quds. Forum tersebut dihadiri oleh wakil-wakil dari 80 negara, terdiri dari tokoh-tokoh politik tingkat dunia dari dua agama besar, Islam dan Kristen. Di Eropa, Tutty Alawiyah menjadi peserta Lokakarya di Adam Institute, London. Dia juga berpidato di Manchester, Inggris. Dilanjutkan dengan menghadiri seminar di Leiden, Belanda.

Ia juga aktif di Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) sebagai Dewan Pembina dan Anggota Pakar bidang Agama dan budaya. Dengan BKMT, IMWU dan jaringan dakwah yang lain, kiprah dakwah Prof. Tutty Alawiyah, melintas batas, meretas jalan menuju dakwah global.

Author: 

No Responses

Leave a Reply